Buah Tin (Ficus carica) Cegah Gangguan Kognitif pada Penyakit Hati Akibat Hipoksia

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Kobe Journal of Medical Sciences menegaskan potensi Ficus carica (buah tin) sebagai sumber nutrisi yang mampu mencegah gangguan kognitif pada penyakit hati berlemak non-alkohol (non-alcoholic fatty liver disease/NAFLD) akibat paparan hipoksia intermiten. Studi yang dilakukan oleh Dwi Widyawati, Andreanyta Meliala, Siswanto, Paramita Narwidina, dan Ayu Tiara Fitri* dari Departemen Fisiologi FK-KMK UGM ini menunjukkan bahwa konsumsi Ficus carica dapat meningkatkan pertahanan antioksidan hati, menurunkan inflamasi, dan melindungi fungsi memori. (dr. Andreanyta Meliala adalah penulis korespondensi).

Studi pada Hewan Uji

Penelitian menggunakan 24 ekor tikus jantan Sprague-Dawley yang dipapar hipoksia intermiten—kondisi kekurangan oksigen berulang yang umum pada gangguan tidur obstruktif—selama tujuh hari. Hipoksia jenis ini dikenal dapat memperberat NAFLD dan memicu gangguan fungsi otak. Sebelum dan selama paparan, tikus diberi puree Ficus carica varietas Jordan (yang dibudidayakan di Bogor) selama lima minggu dengan tiga dosis berbeda: rendah (6,25 mL/kg/hari), sedang (12,5 mL/kg/hari), dan tinggi (25 mL/kg/hari).

Hasil Utama

  • Perlindungan Antioksidan dan Anti-inflamasi
    Ficus carica secara signifikan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan hati, superoxide dismutase (SOD) dan catalase (CAT), serta menurunkan kadar malondialdehid (MDA) sebagai penanda stres oksidatif.

  • Dosis Paling Efektif
    Dosis sedang (12,5 mL/kg/hari) memberikan efek paling konsisten, yakni peningkatan aktivitas CAT, penurunan marker inflamasi seperti neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), platelet-to-lymphocyte ratio (PLR), dan systemic immune-inflammation index (SII).

  • Perlindungan Fungsi Memori
    Uji perilaku Y-maze menunjukkan bahwa kelompok kontrol hipoksia mengalami penurunan signifikan pada memori kerja spasial, sedangkan tikus yang mendapat Ficus carica—terutama dosis sedang—mampu mempertahankan kemampuan memori setara dengan kelompok normal.

  • Regulasi Molekuler
    Pemberian Ficus carica juga menurunkan kadar Hypoxia-Inducible Factor-1α (HIF-1α) di otak, faktor penting dalam proses peradangan dan kerusakan jaringan akibat kekurangan oksigen.

Implikasi Kesehatan dan Keberlanjutan

Andreanyta Meliala menekankan bahwa temuan ini mendukung upaya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam promosi kesehatan dan pola makan berkelanjutan. “Ficus carica kaya akan polifenol, flavonoid, dan serat yang bekerja melalui mekanisme gut-liver-brain axis untuk menekan peradangan, menjaga integritas usus, dan mendukung fungsi kognitif,” jelasnya.

Dengan meningkatnya prevalensi NAFLD di seluruh dunia, integrasi buah tin ke dalam pola makan masyarakat dinilai sebagai langkah preventif yang sederhana namun efektif. Buah ini juga mudah diperoleh dan dapat diolah dalam berbagai bentuk makanan, menjadikannya kandidat ideal untuk program gizi masyarakat.

Langkah Lanjutan

Meski menjanjikan, penelitian ini memiliki keterbatasan karena belum menilai histopatologi hati dan otak serta parameter fungsi hati seperti AST, ALT, dan bilirubin. Tim peneliti merekomendasikan studi lanjutan untuk mengungkap mekanisme molekuler secara lebih mendalam dan mengeksplorasi potensi klinis pada manusia.


Kesimpulan:
Hasil penelitian oleh tim FK-KMK UGM menegaskan bahwa konsumsi Ficus carica, khususnya pada dosis sedang, mampu menekan stres oksidatif, mengurangi inflamasi, dan mempertahankan fungsi memori pada kondisi penyakit hati akibat hipoksia. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan buah tin sebagai intervensi gizi alami yang mendukung kesehatan hati, fungsi kognitif, dan keberlanjutan kesehatan masyarakat.
Artikle jurnal selengkapnya dapat diakses melalui link berikut.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *